Kamis, 28 Agustus 2014

apa sih Orientasi Seksual??

   


Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengetahuan sedikit mengenai orientasi seksual. dan perlu anda semua ketahui juga bahwa orientasi seksual ini memiliki beberapa tipe dan berbeda dengan transgender.

  Apa sih yang dimaksud dengan orientasi seksual? jawabannya adalah kecenderungan untuk ketertarikan secara emosional, fisik, seksual, keromantisan terhadap lawan atau sesama jenis. sebagai kita ketahui orientasi seksual tersebut terbagi kedalam tiga tipe. Yang pertama kita ketahui adalah heteroseksual,  orientasi seks ini adalah normal pada manusia, dimana kita tertarik kepada lawan jenis kita. Sebaliknya ada tipe orientasi seksual yang dapat dikatakan abnormal atau tidak normal bagi kita atau masyarakat pada umumnya. Mungkin kita tidak asing dengan istilah homoseksual dan biseksual. Homoseksual merupakan orientasi seksual dimana kita menyukai atau tertarik pada sesama jenis kita. dimasyarakat umun sudah tidak asing lagi dengan yang namanya gay (pria menyukai pria) dan lesbie (wanita menyukai wanita). Sedangkan untuk istilah orientasi seksual biseksual adalah ketertarikan seseorang pada lawan jenis dan sesama jenis. 
     
   Orang-orang dalam kategori atau tipe homoseksual dan biseksual dapat dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki gangguan orientasi seksual. Namun gangguan orientasi seksual sendiri berbeda dengan yang namanya transgender. Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual,homoseksual dan biseksual. Jika gangguang orientasi seksual yang terganggu adalah emosionalnya, maka transgender disebabkan karena keyakinan pada dirinya yang berlawanan dengan tubuh aslinya.


Sabtu, 26 April 2014

Pengalaman adalah sebagian kunci untuk KESUKSESAN.. :)

Untuk kesempatan ini, saya Jennifer Jesslyn akan berbagi pengalaman dan sedikit pengetahuan kepada para pembaca sekalian. Topik untuk kali ini adalah "Pengalaman adalah sebagian kunci untuk SUKSES". mengapa saya ambil topik ini? berikut saya ceritakan sedikit.

Saat pelajaran Teknik Wawancara Selasa, 22 April lalu, dosen saya mendatangkan tiga orang praktisi yang sudah bergelut dibidang HRD selama beberapa tahun. mereka khusus didatangkan untuk berbagi dan menceritakan pengalaman apa saja yang pernah mereka dapatkan, mulai dari pengalaman terjun didunia kerja pertama kali, pengalaman tidak menyenangkan, sampai pengalaman yang menyenangkan.
Saat pertama kali lulus (fresh graduate) mereka mulai mencari pekerjaan dan masuk dalam dunia HRD mulai dari staff biasa. mereka belajar dari awal bagaimana untuk mulai bekerja dengan baik. salah satu dari  mereka mengatakan, bahwa setelah kita lulus bukan menjadi santai tidak harus belajar dan membaca. namun sebaliknya, saat kita berada didunia kerja maka pengetahuan kita harus lebih banyak lagi. kita harus banyak baca dan mempelajari hal-hal lain selain dunia yang kita kuasai, bahkan bukan hanya satu atau dua hal lain selain dunia psikologi, tapi semua jurusan harus diketahui. karena namanya bekerja di dunia HRD, kita berhadapan dengan manusia yang berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, tentunya jika kita sebagai HRD yang ditugaskan untuk rekrutmen karyawan dengan menggunakan teknik wawancara, maka yang akan kita hadapi adalah orang-orang dengan pendidikan sama dengan kita, atau bahakan berbeda dan jauh berbeda. maka untuk menanggulangi hal tersebut agar kita tidak terlihat bodoh oleh orang yang akan kita wawancarai adalah dengan banyak membaca dan mencari informasi.

Mereka menceritakan bagaimana pengalaman di perusahaannya masing-masing. mereka mengatakan bahwa untuk meghadapi orang lain harus dilihat dari latar belakang pendidikan dan kebiasaan mereka. karena setiap manusia itu unik, maka kita tidak dapat memperlakukan mereka dengan sama semuanya. salah satu lainnya dari praktisi tersebut mmenceritakan pengalamannya saat harus bekerja di perusahaan nikel di pula raja ampat, beliau harus mewawancarai orang-orang yang akan bekerja diperusahaan tempat nya bekerja. karena orang0orang disana memiliki latar belakang pendidikan yang kurang tinggi dan tata bahasa serta kebiasaan yang berbeda dari masyarakat yang ada di kota, maka beliau harus beradaptasi terlebih dahulu. wawancara yang biasa dilakukan di dalam ruangan yang bagus dan ber AC, sekarang harus dilakukan di rumah-rumah penduduk atau warung dengan kondisi seadanya. untuk itu diperlukan sikap beradaptasi agar masyarakat disana dapat menerima beliau. setelah belajar dari beberapa pengalaman mewawancara orang disana, maka beliau dapat beradaptasi dan mulai dapat akrab dengan mereka.

satu orang terakhir dari mereka, bekerja sebagai staff HRD di salah satu perusahaan food and beverage menceritakan pengalamannya dalam mewawancara orang. beliau mengatakan bahwa ada hal-hal tertentu yang menjadi penilaian pertama dalam meng-hire (mempekerjakan seseorang). salah satunya adalah dengan melihat calon pekerja atau pelamar tersebut akan bekerja di perusahaan apa dan di bidang apa. karena beliau bekerja di dunia food and beverage maka contoh yang beliau berikan adalah untuk lamaran waiter atau waitress. untuk melamar di jabatan itu, hal yang paling utama yang harus dilihat adalah penampilan (kerapihan, bersih, tidak bau badan), fisik (tinggi badan, paras wajah), dan perilaku (sopan, ramah).

dari ketiga pengalaman yang diceritakan oleh para praktisi yang merupakan kakak senior di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, saya jadi mendapatkan masukan dan pengalaman untuk memepersiapkan diri jika sudah lulus dan hendak masuk dalam dunia kerja. karena dengan mendengar cerita pengalaman seseorang, saya yakin akan membuat sukses seseorang.

"Pengalaman adalah sebagian kunci untuk KESUKSESAN" (Jennifer Jesslyn)

Selasa, 11 Maret 2014

Keterampilan dasar dalam WAWANCARA


     Menyambung dari blog saya yang sebelumnya mengenai aplikasi wawancara dalam dunia Psikologi, blog ini juga masih membicarakan seputar teknik wawancara. Jika kita ingen menjadi seorang pewawancara yang baik, maka kita harus memiliki dan menguasai keterampilan-keterampilan dalam wawancara. Apa saja sih keterampilan yang diperlukan tersebut?? ada 6 buah keterampilan dasar dalam wawancara:

1. Kemampuan Membina Rapport
    Yang dimaksudkan disini adalah bagaimana seorang pewawancara menjalin hubungan baik pada kesan pertama dan seterusnya dengan klien atau orang yang hendak kita wawancarai. contohnya saja berjabat tangan saat berkenalan, mengucapkan salam, mempersilahkan duduk dan tersenyu pada klien atau orang yang hendak kita wawancarai. 

2. Empati
     Empati ini merupakan kemampuan pewawancara dalam menghayati atau mengerti dan merasakan apa yang sedang dialami oleh klien atau orang yang sedang kita wawancarai. Jika bina rapport kita dengan klien atau orang yang ingin kita wawancarai berjalan lancar-lancar saja dari awal maka empati akan terjalin dengan sendirinya tanpa dipaksakan. Dalam empati. pewawancara tidak boleh membenarkan semua perilaku yang dilakukan oleh klien, melainkan kita harus memilah  perilaku mana yang benar untuk dipertahannkan, dan perilaku yang salah untuk dirubah. Empati diperlukan agar klien merasa bahwa pewawancara mengerti apa yang dirasakan dan mau untuk terbuka dan jujur menceritakan segala keluh kesahnya.

3. Attending Behavior
     kunci dari attending behavior ini adalah mengurangi kuantitas berbicara pada pewawancara dan memberikan klien waktu untuk menceritakan tentang diri mereka. Dengan memberikan perhatian pada klien, pewawancara dapt mengetahui dan memahami apa yang diceritakan oleh klien. dengan ini juga, klien akan merasa bahwa dirinya diperhatikan saat bercerita sehingga hal tersebut menumbuhkan rasa percaya pada klien untuk menceritakan segala permasalahan yang dihadapi klien. 
     Dalam attending behavior ada 4 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu visual (menatap klien), vocal qualities (nada dan kecepatan saat berbicara), verbal tracking (tidak mengubah tujuan pembicaraan yang telah ditetapkan sebelumnya), dan body language (apa adanya dan penuh perhatian).

4. Teknik Bertanya
     Pada saat bertanya, usahakan pewawancara menggunakan teknik open question dibandingkan dengan closed question. Open question adalah pertanyaan yang ditanyakan bersifat terbuka dan tidak mengarahkan seperti closed question. open question dapat dimulai dengan pertanyaan  "apa yang bisa saya bantu?" atau "dapatkah anda menceritakan lebih lanjut?". sedangkan pertanyaan closed question merupakan pertanyaan yang merujuk pada jawaban tertentu dengan hanya ada pilihan dua jawaban "YA/TIDAK atau SUKA/TIDAK atau Apakah anda marah?"
     Dalam memberikan pertanyaan, pewawancara tidak diperbolehkan untuk menjadi intrusive, menginterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada habisnya, mengontrol keadaan klien (cth ; tidak boleh nangis), menggunakan kata KENAPA dalam bertanya (karena dengan kata kenapa, klien merasa disalah kan dan harus bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang telah terjadi), dan bertanya hanya untuk memuaskan rasa keingintahuan pewawancara.

5. Keterampilan Observasi
     Keterampilan dalam observasi berfokus pada 3 area, yaitu non-verbal (ekspresi wajah, bahasa tubuh, stereotip), verbal ( perhatian yang diseleksi, klien akan berbicara jika pewawancara tertarik dan mau mendengarkan pada topik tertentu dan perhatikan kata-kata yang sering diulangi dan diberikan penekanan yang berbeda dari kata lain, cth: saya mau bunuh diri diulang sampai berkali-kali), dan konfil, diskrepansi dan inkongruensi.

6. Active Listening
     Active listening ini terdiri dari:
- Encouraging : merupakan bahasa verbal atau non-verbal yang digunakan pewawancara untuk memberikan tanda pada klien agar klien melanjutkan pembicaraanya.
cth: verbal --> hmm...., ya..., oke.., lalu..
      non-verbal --> mengangguk
- Pharaphrasing : fokus pada konten dan mengklarifikasi sesuatu yang terjadi dalam komunikasi. dengan parafrase klien akan tahu bahwa kita mendengarkan apa yang diucapkannya.
   Reflection of Feeling : merupakan identifikasi kunci emosi yang dirasakan oleh klien. pewawancara harus menanyakan dengan jelas dan detail apa yang dirasakan oleh klien. misalnya yang klien rasakan adalah sedih. sedih yang seperti apa?? apakah perasaan tidak bahagia, depresi, atau apa.
   Reflection of Content terdapat yang namanya Parroting yang berarti pewawancara mengulang perkataan klien untuk memberikan garis besar cerita klien atau ketika meminta klien meneruskan ceritanya. 
- Summarizing : merupakan kesimpulan dari pembicaraan yanv telah dilakukan. biasanya summarizing dapat diguunakan pada awal pertemuan, tengah maupun akhir pertemuan untuk memberi tau secara garis besar apa yang sudah diceritan atau masalh yang terjadi dan untuk mengklarifikasi sesuatu yang salah.

Senin, 10 Maret 2014

Aplikasi Teknik Wawancara dalam dunia PSIKOLOGI


     Wawancara? mungkin kita sering mendengar kata tersebut dikehidupan sehari-hari dalam bercakap-cakap bersama teman atau yang lebih sering adalah untuk melamar pekerjaan.. Namun, wawancara dalam segi Psikologi dapat digunakan lebih dari sekedar bercakap-cakap dan untuk melamar pekerjaan saja. Dalam dunia Psikologi, wawancara dapat digunakan dalam beberapa setting, yaitu pada setting Klinis, Pendidikan dan dalam dunia Industri dan Organisasi. mari kita bahas satu persatu wawancara pada setting diatas.

     Pada setting Klinis, Klinis anak maupun dewasa wawancara dapat digunakan dalam konseling antara klien dengan Psikolog ataupun Terapis. Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui latar belakang masalah klien, penyakit yang diderita atauoun gangguan yang dimiliki maupun untuk mengetahui latar belakang keluarga klien yang bersangkutan. Selain itu juga wawancara dalam setting klinis bermanfaat untuk menguatkan diagnosa Psikolog atau Terapis terhadap penyakit atau gangguan yang diderita oleh klien. Dengan wawancara, maka Psikolog atau Terapis dapat mengetahui informasi yang lebih dalam, sehingga dapat menangani klien tersebut dengan metode pemulihan yang sesuai. 

     Sedangkan pada setting Pendidikan, wawancara kebanyakan digunakan oleh guru bimbingan konseling (BK) di sekolah-sekolah. Biasanya guru tersebut menggunakan teknik wawancara saat menghadapi murid-murid yang bermasalah, seperti sering membolos, nilai akademik yang tidak bagus, berkelahi dengan teman dan masalah lainnya. Atau bisa saja dilakukan dengan murid yang hanya sekedar ingin berkonsultasi saja dengan gurunya. Tidak hanya pada para murid, biasanya dalam dunia pendidikan peran Guru konseling juga dibutuhkan untuk mengatasi masalah pada guru-guru lainnya. Misalnya saat guru lain menghadapi stress menghadapi kenakalan para murid atau stress karena pekerjaannya.

     Dan yang terakhir, teknik wawancara yang digunakan dalam setting Industri dan Organisasi (PIO). Mungkin dalam setting ini paling banyak diketahui oleh orang awam yang menggunakan teknik wawancara. Dalam dunia PIO dikenal adanya HRD yang merupakan suatu departemen yang mengelola sumber daya manusia di perusahaan. Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam setting ini wawancara digunakan dalam recruitment. Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui latar belakang calon karyawan yang hendak bekerja disebuah perusahaan.  Apakah calon karyawan tersebut cocok dengan bagian pekerjaan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Selain itu juga wawancara dapat dilakukan oleh HRD untuk promosi karyawan (naik jabatan).